Friday, November 9, 2018
Tuesday, October 24, 2017
Al-Farabi Teori Emanasi dan Kenabian
(REVISI) MAKALAH
AL-FARABI
TEORI EMANASI DAN KENABIAN
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah :
Sejarah Pemikiran Islam
Dosen Pengampu :
Dr. Muniron, M. Ag
Disusun Oleh :
Muhamim Sarifudin
PROGRAM
PASCASARJANA
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT KEDIRI 2017)
BAB
I
- Pendahuluan
Setiap agama samawi yahudi, kristen, dan
islam secara esensial berdasarkan pada wahyu dan ilham. Dari wahyu dan ilhamlah
agama langit lahir, dan karena kmu’jizatannya agama ini menang serta mampu
bertahan sepanjang masa. Sosok nabi tidaklah lain hanyalah seorang yang
dianugerahi kemampuan untuk berhubungan dengan Allah dan mengekpresikan
kehendakNya di muka bumi. Inilah barangkali puncak kistimewaannya.
Seorang Nabi tidak bermimpi keculai
hanya waktu subuh tiba, tidak melihat suatu kebaikan kecuali turun dari yang
maha bijaksana lagi maha terpuji, dan tidak pula memutuskan kecuali seizin
kehendakNya.
Dengan demikian kewajiban bagi umat
islam untuk memberikan penghormatan yang tertinggi kepada kenabian dengan
argumentasi-argumentasi yang sesuai dengan dengan kapasitas ruhaniyah,
intelektual, intuisi masing-masing yang kemudian dapat diterima penduduk bumi,
dan sekalian membatah segala bentuk pengingkaran dari kalangan dalam,maupun
dari luar islam sendiri.
- Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
teori emanasi al-Farabi
2. Bagaimana
teori Falsafah Kenabian al-Farabi
BAB II
- Al-Farabi
dan Corak Pemikirannya
1. Biografi al-Farabi.
Nama lengkap alFarabi adalah Abu
Muhammad ibn Muhammad Ibn Tharkan Ibn Auzalagh. Ia lahir di wasij distrik Farab
(sekarang dikenal dengan kota Atrar/Transoxiana) Turkinistan pada tahun 257 H /
870 M. Ayahnya seorang jenderal berkebangsaan Persia, dan ibunya berkebangsaan
Turki[1].
Dikalangan orang-orang latin abad tengah, al-Farabi lebih dikenal sebagai Abu
Nasrh (Abunaser), sedangkan sebutan nama al-Farabi diambil dari nama kota Farab
tempat dia dilahirkan[2]
Untuk memulai karir dalam
pengetahuannya, ia hijrah dari negerinya ke kota Bagdad yang pada waktu itu
disebut sebagai kota ilmu pengetahuan. Dia belajar selama kurang lebih dua
puluh tahun. Ia benar-benar memanfaatkan untuk menimba ilmu pengetahuan kepada
Ibnu Suraj untuk belajar bahasa Arab, dan kepada Abu Bakar Yunus untuk belajar
ilmu Mantiq (logika).
Setelah dari Baghdad al-Farabi pergi ke
Harran sebagai salah satu pusatkebudayaan Yunani di Asia Kecil. Disana ia
berguru kepada Yohana Ibnu Hailan. Akan tetapi tidak lama kemudian ia
meninggalkan kota tersebutdan kembali ke kota Baghdad. Disini dia kembali
mendalami filsafat sehingga ia mampu mencapai ahli ilmu Mantiq (logika),
kemudian ia mendapatkan predikat Guru Kedua, maksudnya ia adalah orang
yang pertama kali memasukan ilmu logika ke dalam kebudayaan Arab. Keahlian ini
rupanya yang dialami Aristoteles sebagai Guru Pertama, yang mana sebagai
orang yang pertama menemukan ilmu Logika.
Pada tahun 350 H./ 941 M, al-Farabi
pindah ke Damsyik dan menetap di kota ini. Kedudukan al-Farabi sangat
diperhatikan secara baik oleh Saif al-Dullah, Kholifah dinastio Hamdan di
Allepo (Hallab).
2. Teori Emanasi al-Farabi
Emanasi ialah teori tentang keluarnya
sesuatu wujud yang mumkin (alam makhluk) dari Zat yang wajibul wujud (Zat yang
mesti adanya; Tuhan). Teori emanasi disebut juga dengan nama “teori urut-urutan
wujud”. Menurut al-Farabi, Tuhan adalah pikiran yang bukan berupa benda[3].
Teori
ini erat kaitannya dengan teori wujud (eksistensi), yang oleh al-Farabi dibagi
menjadi dua;
1) Wujud yang mungkin ada
karena lainnya (mumkin al-Wujub). Seperti wujud cahaya yang tidak akan ada
kalau sekiranya tidak ada matahari. Cahaya itu sendiri menurt tabi’atnya bisa wujud
dan bisa pula tidak. Karena matahari telah wujud, maka cahaya itu menjadi wujud
disebabkan wujudnya matahari. Wujud yang mungkin ini menjuadi bukti adanya
sebab yang pertama, karena segala yang mungkin harus berakhirpada suatu wujud
yang nyata dan pertama kali ada.
2)
Wujud yang ada dengan sendirinya ( wajib
al-wujud). Wujud ini adalah wujud yang tabi’atnya itu sendiri menghendaki
wujudnya. Kalau ia tidak ada, maka yang lainpun tidak akan ada sama sekali, ia
adalah sebab pertama bagi semua wujud yang ada. Dan wujud yang wajib ada inilah
Tuhan
Berdasrkan teori ini al-farabi berpendirian, bahwa
seluruh yang ada (maujud) tidak terlepas dari keadaan wajibul wujud atau mumkin
wujud. Yang mumkinul wujud lahir karena ada sebab, sedangkan yang wajibul wujud
adalah ada dengan tidak bersebab, ia memiliki Zat yang Agung dan sempurna, ia
memiliki kesanggupan mencipta dalam keseluruhan sejak azali[4].
Sesuai
dengan Firman Allah dalam Q.S. Yasin ayat 82:
!$yJ¯RÎ)
ÿ¼çnãøBr&
!#sÎ)
y#ur&
$º«øx©
br&
tAqà)t
¼çms9
`ä.
ãbqä3usù
ÇÑËÈ
Artinya:“Sesungguhnya
keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:
"Jadilah!" Maka terjadilah ia”. (Q.S. Yasin ayat 82)
Al-Farabi berpendapat Tuhan sebagai akal,
berpikir tentang diri-Nya, dan dari pemikiran ini timbul suatu maujud lain.
Tuhan merupakan wujud pertama (al wujudul awwal) dan dengan pemikirannya itu
timbul wujud kedua (al wujudul tsani) yang juga mempunyai substansi. Ia disebut
akal pertama (al aklu awwal) yang tidak bersifat materi. Sedangkan wujud kedua
berpikir tentang wujud pertama dan dari pemikiran inilah timbul wujud ketiga
(wujudul tsalis) disebut Akal Kedua (al aklu tsani).
Lebih lanjut, urutan-urutan emanasi al-‘Aqil
itu dapat digambarkan sebagai berikut :
1) Wujud II atau Akal
Pertama itu juga berpikir tentang dirinya hingga timbullah Langit Pertama
(al-Asmaul awwal),
2) Wujud III / Akal kedua
menimbulkan Wujud IV/Akal Ketiga yakni bintang-bintang),
3) Wujud IV/Akal Ketiga
menimbulkan Wujud V/Akal Keempat, yakni Planet Saturnus
4) Wujud V/Akal Keempat
menimbulkan Wujud VI/Akal Kelima, yakni Planet Jupiter,
5) Wujud VI/Akal Kelima
menimbulkan Wujud VII/Akal Keenam, yakni Planet Mars,
6) Wujud VII/Akal Keenam
menimbulkan Wujud VIII/Akal Ketujuh, yakni Matahari,
7) Wujud VIII/Akal
Ketujuh menimbulkan Wujud IX/Akal Kedelapan,yakni Planet Venus,
8) Wujud IX/Akal
Kedelapan menimbulkan Wujud X/Akal Kesembilan, yakni Planet Mercurius,
9) Wujud X/Akal
Kesembilan menimbulkan Wujud XI/Akal Kesepuluh, yakni Bulan.
Wujud yang dimaksud adalah Wujud Tuhan. Pada
pemikiran Wujud XI/Akal Kesepuluh, berhentilah terjadinya atau timbulnya
akal-akal. Tetapi dari Akal Kesepuluh muncullah bumi serta roh-roh dan materi
yang menjadi dasar dari keempat unsur, yaitu api, udara, air, dan tanah.
Sebuah pertanyaan, mengapa jumlah akal dibataskan
kepada bilangan sepuluh. Hal ini disesuaikan dengan bilangan bintang yang
berjumlah sembilan. Selain itu, ditiap-tiap akal diperlukan satu planet pula,
kecuali akal pertama yang tidak disertai sesuatu planet ketika keluar dari
Tuhan. Tetapi mengapa jumlah bintang tersebut ada 9 (sembilan). )? Karena
jumlah benda-benda angkasa menurut Aristoteles ada tujuh. Kemudian barulah
al-Farabi menambah dua lagi, yaitu benda langit yang terjauh dan
bintang-bintang tetap.
Ia menyatakan bahwa jumlah akal ada sepuluh,
sembilan di antaranya untuk mengurus benda-benda langit yang sembilan,
sedangkan akal kesepuluh yaitu akal bulan yang mengawasi dan mengurusi
kehidupan dibumi.
3.
Falsafah
Kenabian
Filsafat ke-Nabian dalam pemikiran al-Farabi
erat hubungannya pada agama. Agama yang dimaksud adalah agama Samawi (langit).
Dalam agama Islam Nabi adalah manusia seperti manusia lainnya. Akan tetapi Nabi
diberi kelebihan oleh Allah akan kemuliaan berupa mukjizat yang tidak dimiliki
oleh manusia lainnya. Maka dalam agama Islam, seorang Nabi adalah utusan Allah
yang mengemban tugas keagamaan. Nabi adalah utusan Allah yang diberikan
Al-Kitab yang dipandang sebagai Wahyu Ilahi. Oleh sebab itu, apa yang diucapkan
oleh Nabi yang berasal dari Allah adalah wahyu, dengan ucapan yang tidak keluar
dari nafsunya sendiri. Allah berfirman pada Q.S an-An-Najm ayat 3-5 :
$tBur
ß,ÏÜZt
Ç`tã
#uqolù;$#
ÇÌÈ ÷bÎ)
uqèd
wÎ)
ÖÓórur
4Óyrqã
ÇÍÈ ¼çmuH©>tã
ßÏx©
3uqà)ø9$#
ÇÎÈ
3.
dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
4. ucapannya itu tiada lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
5. yang diajarkan kepadanya oleh
(Jibril) yang sangat kuat.
Salah satu filsafat al-Farabi ini menjelaskan
eksistensi para Nabi yang mempunyai jiwa besar, dan membawa
pencerahan-pencerahan serta mempunyai kesanggupan untuk berkomunikasi dengan
akal fa’al. Sebab lahirnya filsafat ke-Nabian ini disebabkan adanya
pengingkaran terhadap eksistensi ke-Nabian secara filosofis oleh Ahmad Ibnu
Ishaq Al-Ruwandi. Ia adalah seorang tokoh yahudi yang membuat karya-karya
tentang keingkaran kepada Nabi dan Umumnya pada Nabi Muhammad SAW.
Khususnya kritiknya ini dapat
dideksripsikan sebagai berikut:
1)
Nabi sebenarnya tidak
diperlukan manusia, karena Tuhan telah mengaruniakan akal kepada manusia tanpa
terkecuali. Akal manusia dapat mengetahui Tuhan beserta segala nikmat-Nyadan
dapat pula mengetahui perbuatan baikm dan buruk.
2)
Ajaran agama meracuni
prinsip akal. Secara logika tidak ada bedanya thawaf di
Ka’bah, dan sa’i di Bukit Shafa dan Marwah dengan tempat-tempat
lain.
3)
Mukjizat hanya semacam
cerita khayal belaka yang hanya menyesatkan manusia.
4)
Al-Qur’an bukanlah
Mukjizat dan bukan persoalan yang luar biasa (Al-khawariqal-adat). Orang
yang non Arab jelas saja heran dengan balaghah Al-Quran, karena mereka tidak kenal
dan memgerti Bahsa Arab dan Muhammad adalah kabilah yang paling fasahah dikalangan
orang Arab[5].
Dalam suasana yang demikian, Al-Farabi
merasa terpanggil untuk menjawab tantangan tersebut. Karena kenabian adalah asa
sentral dalam agama, apabila ia telah batal, maka akibatnya membawa kebatalan
pada agama itu sendiri.
Al-farabi adalah filosof muslim pertama
yang mengemukakan filsafat kenabian secara lengkap, sehingga hampir
tidak ada penambahan oelh filosof-filosof sesudahnya. Filsafatnya ini
didasarkan pada psikologi dan metafisika yang erat hubungannya denga ilmu
politik dan etika.
Menurut Al-Farabi, manusia dapat
berhubungan dengan akal fa’al (Jibril) melalui dua cara, yakni penalaran atau
renungan pemikiran dan imajinasi atau inspirasi (ilham). Cara pertama hanya
dapat dilakukan oleh para filosof yang dapat menembus alam materi dan dapt
mencapai cahaya ketuhanan, sedangkan cara kedua hanya dapat dilakukan oleh
nabi.
Telah dimaklumi bahwa ilham-ilham
kenabian adakalanya terjadi waktu tidur dan waktu bangun. Dengan kata lain,
dalam bentuk impian yang benar atau wahyu. Perbedaan keduanya hanya terletak
pada tingkatannya dan tidak mengenai esensinya. Mimoi yang benar tidak lain
adalah satu tanda dari tanda kenabian.
Menurut Al-Farabi, bila kekuatan
imajinasi pada seseorang kuat sekali, oobjek indrawi dari luar tidak akan dapat
mempengaruhinya sehingga ia dapar berhubungan dengan akal fa’al. Apabila
kekuatan imajinasinya telah mencapai taraf kesempurnaan, tidak ada halangan
bainya menerima peristiwa-peristiwa sekarang atau mendatang dari Akal Fa’al
pada waktu bangun. Dengan adanya penerimaan demikian maka ia dapatnubuwwat terhadap
perkara-perkara ketuhanan.
Jadi, ciri khas seorang nabi oleh
Al-Farabi ialah mempunyai daya imajinasi yang kuat dan ketika berhubungan
dengan Aka; Fa’al ia dapat menerima visi dan kebenara-kebenaran dalam bentuk
wahyu. Wahyutidak lain adalah limpahan dari Allah melalui Akal Fa’al (Akal
kesepuluh) yang dalam penjelasan Al-Farabi adalah Malaikat Jibril. Sementara
itu filosof dapat berkomnikasi dengan Allah melalui akal perolehan yang telah
terlatih dan kuat daya tangkapnya sehingga sanggup menangkapn hal-hal yang
bersifat abstrak murni dari akal kesepuluh.
Sampai di sini terkesan bahwa kenabian
telah menjadi suatu yang dapat diusahakan (muktasabat). Akan tetapi,
jika diamati secaa cermat; kesan ini meleset sama sekali. Hal ini disebabkan
nabi adalah pilihan Allah dan komunikasinya dengan Allah bukan melalui Akal
mustafad, tetapi melalui akal dalam derajad materiil. Seorang nabi dianugrahi
Allah akal yang mempunyai daya tangkap yang luas biasa sehingga tanpa latihan
dapat mengadakan komunikasi langsung dengan akal kesepuluh (Jibril). Akal ini
mempunyai kekuatan suci (qudsiyyat) dan di beri nama hads. Tidak
ada akal yang lebih kuat daripada demikian dan hanya nabi-nabi yang memperoleh
akal seperti itu. Sementara itu, filosof dapat berhubungan dengan akal
kesepuluh adalah usaha sendiri, melalui latihan dan pemikiran. Seorang filosof
hanya memiliki akal mustafad (perolehan) lebih rendah dari pada nabi yang
mempunyai akal meteriil dan hads. Oleh karena itu, setiap nabi adalah filosof
dan tidak semua filosof itu nabi. Akan tetapi, filosof tidak bisa menjadi nabi,
yang selamanya ia (nabi) tetap manusia Allah.
Dari sisi pengetahuan dan sumbernya, seperti
yang telah disebutkan sebelumnya, antara filosof dan nabi terdapat kesamaan.
Oleh karena itu, Al-Farabi menekankan bahwa kebenaran wahyu tidak bertentangan
dengan pengetahuan filsafat sebab antara keduanya sama-sama mendapatkan dari
sumber yang sama, yakni Akal Fa’al (Jibril). Demikian pula dengan mukjizat
sebagai bukti kenabian, menurut Al-Farabi, dapat terjadi dan tidak bertentangan
dengan hukum alam karena sumber hukum alam dan mukjizat sama-sama berasal dari
Akal kesepuluh sebagai pengatur dunia ini.
Dari uraian di atas telihat keberhasilan
Al-Farabi dalam menjelaskan kenabian secara filosofis dan menafsirkannya secara
ilmiah yang dapat dikatakan tiada duanya, terutama di “pentas” filsafat Islam[6].
Selanjtnya Akal dalam pemikiran filsafat al-Farabi menempati
tempat istimewa sebagai pangkal epistemologinya, termasuk filsafat metafisika
yang berhubungan dengan penciptaan. Konsep akal ini erat kaitannya dengan teori
kenabian, di mana akal Nabi mampu berhubungan dengan akal ke sepuluh untuk
mendapatkan gambaran ‘ada’ dari yang abstrak berupa pengetahuan. Secara garis
besarnya akal menurut al-Farabi dibagi menjadi dua yaitu :
1)
akal
praktis yang berfungsi menyelesaikan hal hal tekhnis dan keterampilan,
2)
akal
teoritis yang membantu jiwa mendapatkan inspirasi atau ilham,
Dari akal teoritis tersebut ia mampu menangkap konsep yang tak bermateri (akal
actual), kemampuan akal aktual ini dalam menangkap obyek-obyek yang
abstrak semata mata hanya dimiliki oleh orang orang tertentu, termasuk di
dalamnya adalah Nabi dan Filosof, atau disebut dengan akal intelektual[7].
Melalui akal
intelektual, manusia bisa mencerap hal-hal abstrak yang sama sekali tidak
berhubungan dengan materi, bagi seorang Nabi dengan akal intelektual akal mustafadh,
seorang Nabi bisa menerima kode atau isyarat wahyu. Sedangkan
upaya filosof untuk berkomunikasi dengan akal fa’al melalui akal
intelektual dapat dicapai melalui jalan kontemplasi dan perenungan atau melalui
kegiatan berfikir mendalam terhadap sesuatu. Akal inilah yang nantinya akan
menjadi modal bagi kita untuk memahami konsep kenabian (nubuwwah)
al-Farabi. Secara bahasa, wahyu berasal dari kata waha, yahyi, wahyan yang
berarti samar atau rahasia adalah pemberitahuan dari Allah secara cepat dan
samar disertai dengan keyakinan yang penuh. Baik dengan perantara maupun tidak,
denga suara maupun langsung dihujamkan ke dalam hati. Wahyu dituangkan oleh
Tuhan secara langsung kepada Nabi pilihannya, bukan berdasarkan keinginannya
sendiri. Sehingga tidak diketahui oleh manusia, wahyu merupakan bisikan Tuhan
kepada Nabinya sebagai pengetahuan yang cepat dan sangat halus yang muncul
dengan sendirinya tanpa harus berijtihad.
Para nabi diberi
kemampuan akal mustafadh untuk mencercap isyarat wahyu dalam bentuk
kemampuan akal intelek berkomunikasi dengan aql fa’al sehingga kebenaran
yang dihasilkan wahyu adalah kebenaran yang pasti bukan kebenaran nisbi.
Kemampuan istimewa untuk berkomunikasi dengan aql fa’al ini bersifat given
dari Allah. Menurut Amin Abdullah, pembahasan filsafat kenabian dalam
filsafat Islam merupakan pembahasan yang khas, tidak ditemui di dalam filsafat
Yunani secara detail.
Konsep kenabian
al-Farabi ada kaitan erat dengan politik pada waktu itu, di mana ia berpendapat
bahwa pemimpin yang ideal adalah para Nabi atau Filosof, karena ia mempunyai
kedekatan dan mampu berhubungan dengan akal fa’al, yang merupakan sumber
kebaikan. Pemimpin ideal seperti yang digagas oleh al-Farabi memang jauh dari
fakta yang terjadi, sehingga sangat sulit untuk direalisasikan, setidaknya
dengan konsep ini memberikan bekal dalam memilih seorang pemimpin
4.
Kesimpulan
Pertalian
pemikiran al-Farabi sangat erat dengan filsafat Yunani, Oleh karena itu untuk
memahami pokok pikiran al-Farabi mutlak dibutuhkan menyelami pemikiran filsafat
Yunani. Al-Farabi adalah sosok filosof muslim yang pengetahuannya mapan, di
samping ilmuwan juga ‘alim.
Al-Farabi
berpendapat bahwa penciptaan alam ini terjadi secara emanasi atau pancaran
Tuhan (al faidh al ilahiy) melalui daya akal yang tunggal dan esa,
kekal, abadi yang disebut akal murni, kemudian menjadi alam raya yang beraneka ragam,
proses emanasi berhenti pada akal ke sepuluh yang dinamai akal fa’al, pada akal
ke sepuluh ini tidak lagi ber-emanasi karena daya kekuatan akalnya melemah.
Dari akal kesepuluh ini melahirkan materi, seperti air, api, udara, tanah
kemudian diikuti berbagai unsur lainnya. Pada konsep emanasi ini, nampak sekali
pengaruh filsafat neo-platonisme.
Bagi al-Farabi,
baik Nabi, Filosof dan Raja adalah satu kesatuan makna, namun berbeda
pendekatannya. Nabi adalah orang suci yang terpilih untuk menerima titah
kebenaran berupa wahyu, sedangkan filosof melalui logika berpikirnya dapat
mencapai sebuah kebenaran yang hakiki.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Hanafi, Pengantar Filsafat
Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1991
Atjeh, Abu Bakar, Sejarah Filsafat
Islam, Semarang: CV. Ramadhani, 1970
Mulyadi, Dedi, Pengantar Filsafat Islam, Bandung: CV.
Pustaka setia, 2010.
Nasutuion,
Harun, Islam Rasional: Gagasan danPemikiran HarunNasution Bandung:
Mizan, 2000
[1] Dedi Mulyadi, Pengantar
Filsafat Islam, (Bandung: CV. Pustaka setia, 2010), hlm 80.
[2] Ibid.
[3] Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1991) hlm. 92
[4] Atjeh, Abu Bakar, Sejarah Filsafat Islam, (Semarang: CV.
Ramadhani, 1970), hlm. 49
[5] H. sirajudin , 2012, “filsafat
Islam”, (Jakarta: PT Rajagrapindo Persada). Hal 78-79
[6] Ibid, hlm. 79-81.
[7] Harun
Nasutuion, Islam Rasional: Gagasan danPemikiran HarunNasution (Bandung:
Mizan, 2000 ), hlm.43-45.
Makalah Tasawuf
MAKALAH
PENGARUH DZIKIR ASMAUL HUSNA TERHADAP AKTUALISASI DIRI
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah :
Tasawuf dan Psikologi Pendidikan Islam
Dosen Pengampu :
Dr. H. Kharisudin Aqib, M. Ag
Disusun Oleh :
Muhamim Sarifudin
PROGRAM
PASCASARJANA
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM TRIBAKTI (IAIT KEDIRI 2017)
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di
zaman modern seperti saat ini tidak memiliki pengaruh dalam berkembangnya
majelis dalam suatu masyarakat. Majelis merupakan perkumpulan yang memiliki
manfaat yang bersifat positif. Mereka yang tergabung dalam suatu majelis pada
umumnya merasakan rasa persaudaraan yang lebih kuat, sebab dalam suatu majelis
dihadiri oleh sekelompok orang. Misalnya, majelis sholawat, majelis dzikir,
dsb. Salah satunya majelis yang akan dibahas dalam penelitian kali ini adalah
majelis dzikir Asmaul Husna. Tujuan dari majelis ialah mencapai tingkat
spiritualitas serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurut Ujam Jaenudin
esensi spiritualitas adalah keterhubungan, yaitu keterhubungan diri dengan
Tuhan, dengan sesama manusia dan alam semesta[1].
Majlis zikir Asmaul Husna merupakan majelis dzikir yang terbentuk dengan tujuan
mencapai tingkat spiritualitas dengan jalan mengamalkan dzikir Asmaul Husna.
Sebenarnya
Allah SWT. telah menunjukkan jalan kepada mereka yang ingin mengingat-Nya dengan
berdzikir. Firman Allah SWT. dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 198, yang
berbunyi:
( çnrãà2ø$#ur $yJx. öNà61yyd
..........
Artinya : Dan berdzikirlah (dengan
menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan Sesungguhnya
kamu sebelum itu benar-benar Termasuk orang-orang yang sesat.
Maksud
dari potongan ayat tersebut ialah hendaknya kita ingat bahwa Allah SWT. telah
mengaruniakan suatu perangkat kesadaran dan iman kepada kita, sedangkan kita
hanya mampu mengingat-Nya menurut usaha dan kemampuan masing-masing.
Melalui
dzikir yang sungguh-sungguh manusia dapat merasakan kenikmatan tersendiri di
dalam dirinya. Yaitu berupa kenikmatan spiritualitas diri yang bisa dikatakan
mereka seperti bertemu atau berkomunikasi dengan Allah SWT. Dzikir ini sendiri
bukanlah suatu ibadah yang wajib seperti halnya sholat lima waktu. Tetapi Allah
SWT memerintahkan hambahambanya untuk melakukannya. Yaitu untuk selalu
mengingat nama-nama llah SWT. Sesuai dalam firmanNya dalam Al-Qur’an surat
Al-Jumu’ah ayat 10, yang berbunyi:
#sÎ*sù ÏMuÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãϱtFR$$sù Îû ÇÚöF{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.ø$#ur ©!$# #ZÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè?
Artinya : Apabila telah
ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan railah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak
supaya kamu beruntung.
Sehingga
hal ini menjadi daya tarik tersendiri dimana pasti Allah mempunyai rahasia yang
besar bagi orang-orang yang bersedia mengingat namanamaNyaatau berdzikir[2].
Dzikir
secara psikologis akan menciptakan perasaan damai, tenang dan suasana emosi
diliputi oleh emosi-emosi positif. Dzikir jika dilakukan dengan penuh
konsentrasi akan memunculkan gelombang alpha, yaitu gelombang otak yang muncul
jika kondisi tubuh rileks. Efek lain dari meditasi dzikir adalah menimbulkan
perubahan kesadaran seseorang, dari kesadaran normal menuju kesadaran lain yang
sering disebut sebagai altered states of consciousness (ASC). Menurut
Ludwig yang dikutip oleh Triantoro dan Nofrans, perubahan-perubahan yang
terjadi ketika individu berada dalam kondisi ASC antara lain adanya perubahan
pikiran, perubahan perasaan tentang waktu, perubahan kontrol diri, persepsi, body
image dan perasaan/pengalaman yang sulit untuk diceritakan. Sedangkan
dzikir secara fisiologis akan memacu keluarnya zat penenang alamiah di dalam
otak yang disebut sebagai endogenous morphin atau endorphins. Zat
endorphins ini bisa distimulasi dengan latihan mediatasi dzikir melalui
konsentrasi yang mendalam pada kalimat-kalimat dzikir sehingga beberapa
individu setelah melakukan dzikir merasakan keadaan psikologisnya sangat tenang
dan damai[3].
Orang-orang
yang mampu mengaktualisasi diri akan memiliki kepribadian yang berbeda dengan
manusia pada umumnya. Karakteristik yang membedakannya, bersumber dari B-values
yang melekat pada diri dan perilakunya. Ketika mereka mampu memenuhi
hierarki kebutuhan dan memiliki B-values yang melekat pada diri mereka
maka dapat dipastikan mereka akan mampu mencapai aktualisasi diri.
Terdapat
penemuan pada latihan meditasi transendental yang dilakukan oleh Maharishi
Mahesyogi yang dikutip oleh Triantoro dan Nofrans. Bahwa meditasi jika
dilakukan secara kontinu dan teratur akan memberikan manfaat secara psikologis,
seperti peningkatan harga diri (self-esteem), peningkatan kekuatan ego (ego
strenght), kepuasan, aktualisasi diri (self-actualization),
peningkatan gambaran diri (self-image) dan peningkatan kepercayaan pada
orang lain (trust in others). Hal ini kemungkinan juga akan diperoleh
dengan mereka melakukan aktivitas dzikir yang mempunyai kesamaan dalam
dinamikanya dengan meditasi[4].
Dzikir
mampu meningkatkan dan membersihkan diri untuk mencapai derajat Insan Kamil atau
“manusia sempurna”, yanitu orang yang telah memisahkan dan melepaskan dirinya
dari hal-hal keduniaan[5].
Tujuan pembersihan menurut Abdul Al Qadir Al Jailani ada dua. Pertama, untuk
mencapai sifat-sifat Allah, yakni bersifat dengan sifat-sifat-Nya yang mulia.
Kedua, untuk mencapai Zat Allah, yakni mengenal-Nya melalui makrifat dan
hakikat. Pembersihan diri untuk mencapai sifat Allah memerlukan suatu ajaran
uyang dapat menunjukkan proses pembersihan cermin hati, yakni dengan cara
membaca (dzikir atau wirid) Asma’ Allah (nama-nama Allah).
Dzikir
merupakan kunci untuk membuka pintu hati. Dan apabila pintu hati telah terbuka,
muncullah dari dalamnya pikiran-pikiran yang arif untuk membuka mata hati. Hal
ini sesuai dengan puncak dari hierarki kebutuhan Abraham Maslow yaitu
aktualisasi diri.
Dari
penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa dzikir yang dilakukan peserta didik sabagai rutinitas merupakan suatu upaya yang
dilakukan untuk membuka pintu hati para peserta didik sebagai upaya untuk
menjadi insan kamil. Dan pada akhirnya akan tercermin malalui
aktualisasi diri para peserta didik.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah
terdapat pengaruh dzikir Asmaul Husna terhadap aktualisasi diri ?
2. Berapa
besar pengaruh dzikir Asmaul Husna ?
BAB
II
A. Pengertian
Dzikir
Arti
dzikir dari segi bahasa, dzikir berasal dari kata dzakara, yadzkuru,
dzukr/dzikr yang artinya merupakan perbuatan dengan lisan(menyebut,
menuturkan, mengatakan) dan dengan hati (mengingat danmenyebut).
Kemudian ada yang berpendapat bahwa dzukr (bidlammi) saja, yang
dapat diartikan pekerjaan hati dan lisan, sedang dzkir (bilkasri)
dapat diartikan khusus pekerjaan lisan. Sedangkan dari segi peristilahan, dzikir
tidak terlalu jauh pengertiannya dengan makna-makna lughawinya semula.
Bahkan di dalam kamus modern seperti al-Munawir, al- Munjid, dan sebagainya,
sudah pula menggunakan pengertian-pengertian istilah seperti adz-dzikr dengan
arti bertasbih, mengagungkan Allah swt. dan seterusnya.[6]
Banyak ayat Al-Qur‟an yang
berisi perintah Allah SWT. Agar manusia senantiasa berdzikir mengingat-Nya.
Beberapa di antaranya adalah surat An-Nisa‟ ayat 103, Al-Ma‟idah ayat 4,
Al-Hajj ayat 36 dan Al-Jumu‟ah ayat 10.
(#rãà2ø$$sù ©!$# $VJ»uÏ% #Yqãèè%ur 4n?tãur öNà6Î/qãZã_ ...
Artinya : “ingatlah Allah di waktu
berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (QS. An- Nisa ayat 103)
(#rãä.ø$#ur tLô$# «!$# Ïmøn=tã
Artinya: “dan sebutlah nama Allah atas
binatang buas itu (waktu melepaskannya) (QS. Al- Maidah
ayat 4)
(#rãä.ø$$sù zNó$# «!$# $pkön=tæ ¤$!#uq|¹ (
Artinya : “maka
sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri
(dan telah terikat)”. (QS. Al- Hajj ayat 36)
#sÎ*sù ÏMuÅÒè% äo4qn=¢Á9$# (#rãϱtFR$$sù Îû ÇÚöF{$# (#qäótGö/$#ur `ÏB È@ôÒsù «!$# (#rãä.ø$#ur ©!$# #ZÏWx. ö/ä3¯=yè©9 tbqßsÎ=øÿè?
Artinya : “Apabila telah ditunaikan
shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan
ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. . (QS. Al- Jumuah 10)
B. Bentuk – Bentuk
Dzikir
Ibnu
Ata‟, seorang sufi yang menulis al-Hikam (Kata-Kata Hikmah) membagi dzikir atas
tiga bagian:d zikir jali (dzikir jelas, nyata), dzikir khafi (dzikir
samar-samar) dan dzikir haqiqi (dzikir sebenar-benarnya).[7]
1.
Dzikir
Jali
Ialah suatu perbuatan mengingat Allah
swt. dalam bentuk ucapan lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur dan doa
kepada Allah swt. yang lebih menampakkan suara yang jelas untuk menuntun gerak
hati. Mula-mula dzikir ini diucapkan secara lisan, mungkin tanpa dibarengi
ingatan hati. Hal ini biasanya dilakukan orang awam (orang kebanyakan). Hal ini
dimaksudkan untuk mendorong agar hatinya hadir menyertai ucapan lisan itu.
2.
Dzikir
Khafi
Adalah dzikir yang dilakukan secara
khusyuk oleh ingatan hati, baik disertai dzikir lisan ataupun tidak. Orang yang
sudah mampu melakukan dzikir seperti ini merasa dalam hatinya senantiasa
memiliki hubungan dengan Allah swt. Ia selalu merasakan kehadiran Allah swt.
kapan dan dimana saja. Dalam dunia sufi terdapat ungkapan bahwa seorang sufi,
ketika melihat suatu benda apa saja, bukan melihat benda itu, tetapi melihat
Allah swt. Artinya, benda itu bukanlah Allah swt., tetapi pandangan hatinya
jauh menembus melampaui pandangan matanya tersebut. ia tidak hanya melihat
benda itu akan tetapi juga menyadari akan adanya Khalik yang enciptakan benda
itu.
3.
Dzikir
Haqiqi
Dzikir hakiki adalah dzikir yang
dilakukan dengan seluruh jiwa raga, lahiriah dan atiniah, kapan dan dimana
saja, dengan memperketat upaya memelihara seluruh jiwa raga dari larangan Allah
swt. Dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Selain itu tiada yang diingat
selain Allah swt. Untuk mencapai tingkatan dzikir haqiqi ini perlu
dijalani latihan mulai dari tingkat dzikir jali dan dzikir khafi.
C. Dzikir Asmaul
Husna
1. Pengertian
Dzikir Asmaul- Husna
Al-Asma’ al-Husna dalam
Ensiklopedia Islam ialah “nama-nama yang baik”. Al-Qur‟an menyebut 99 nama atau
sifat Allah.[8]
Firman Allah swt:
ª!$# Iw tm»s9Î) wÎ) uqèd ( ã&s! âä!$yJóF{$# 4Óo_ó¡çtø:$#
Artinya: “Dialah Allah,
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai Al asmaaul
husna (nama-nama yang baik)” (QS.
At-Thaha ayat 8)
Setiap nama Allah swt. pasti mengandung
sifat yang berkaitan dengan nama dan keluhuran Allah swt. Melalui wahyu-Nya
yang disampaikan oleh para rasul-Nya, Allah swt. memberitahukan kepada
makhluk-Nya tentang nama-Nya. Ke-99 nama Allah swt. itu disebutkan dalam
hadist.
Dari ulasan di atas zikir asmaul husna
berarti, perbuatan lisan dan hati (menyebut, menuturkan, mengatakan, mengingat,
bertasbih dan mengagungkan) nama-nama
baik atau sifat-sifat baik Allah SWT. Dasar hukum Asma‟ul Husna berdasarkan
ayat Al-Qur‟an di antaranya terdapat dalam surat Al-A‟raf ayat 180, Al-Isra‟
ayat 110.
¬!ur âä!$oÿôF{$# 4Óo_ó¡çtø:$# çnqãã÷$$sù $pkÍ5 ( (#râsur tûïÏ%©!$# crßÅsù=ã þÎû ¾ÏmÍ´¯»yJór& 4 tb÷rtôfãy $tB (#qçR%x. tbqè=yJ÷èt
Artinya:
“ Hanya milik Allah asmaa-ul husna Maka
bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah
orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti
mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
)”
(Al-A‟raf
ayat 180)
È@è% (#qãã÷$# ©!$# Írr& (#qãã÷$# z`»uH÷q§9$# ( $wr& $¨B (#qããôs? ã&s#sù âä!$yJóF{$# 4Óo_ó¡çtø:$# 4 wur öygøgrB y7Ï?x|ÁÎ/ wur ôMÏù$séB $pkÍ5 Æ÷tFö/$#ur tû÷üt/ y7Ï9ºs WxÎ6y ÇÊÊÉÈ
Artinya:
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana
saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan
janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula
merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS.
Al-Isra‟ ayat 110)
D. Manfaat Dzikir
Asmaul Husna
Keutamaan
dzikir Asmaul Husna menurut
Laleh Bakhtiar dalam karyanya Meneladani
Akhlak Allah, diantaranya ialah:
1. Penyembuhan
Moral fungsi Jiwa tentang Kertatrikan pada Kenikmatan dengan Meraih
Keseimbangan
a. Tekad
Penyerahan Diri
Tekad
atau kekuatan kehendak adalah dasar semua tindakan, termasuk pengendalian
perasaan dengan memaksa imajinasi untuk berunding dengan akal. Akal kemudian
berkonsultasi kepada kehendak bebas dan nurani, sebelum imajinasi mengirim
dorongan kepada ketertarikan pada kenikmatan atau keapada penghindaran bahaya.
Tindakan yang dilakukan kesatria rohani memerlukan tekad yang besar untuk
menjadi positif, karena jiwa terdidiknya harus ditundukan agar jiwa alaminya
muncul kepermukaan.
b. Harapan
Rasa Takut
Mengalami
tegangan antara berbagai kutub yang berlawanan akan menguatkan kekuatan
kehendak pejuang spritual. Pengalaman ini memungkinkan ia bergerak, menguji
antara dua ekstrim, agar dapat mencapai titik tengah atau pengekangan diri.
Penyembuhan melalui tahap harapan dan rasa takut mengharuskan pejuang spritual
menghadapi tegangan alami yang ada dalam dirinya misalnya menyempitkan
(qabidh), melapangkan (basith), meninggikan (rafi’), merendahkan (khafidh),
memuliakan (muizz), menghinakan (mudzil). Setiap pasangan ini adalah aspek dari
harapan dan ketakutan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Ghazali; “Harapan
dan ketakutan adalah dua sayap yang digunakan orang untuk terbang ke tempat
setiap tempat yang terpuji”.
c. Ketakwaan
d. Titik
Tengah
e. Ketenangan
f. Kesederhanaan
Spritual
g. Pengendalian
Diri
2. Penyembuhan
Moral untuk Fungsi Jiwa tentang Penghindaran Bahaya dengan Meraih keberanian
a. Kebaikan
b. Kepatutan
Moral
c. Syukur
d. Keawasan
e. Tawakal
f. Tobat
g. Kesabaran
3. Penyembuhan
Moral untuk Fungsi Kognitif jiwa dengan Meraih Kearifan
a. Himmah,
Cita-Cita Puncak
b. Intropeksi
c. Kejujuran
d. Keridhaan
e. Kesatuan/Keteguhan
f. Ketulusan
Nabi
Muhammad SAW. bersabda:
إن الله تسعة وتسعين إسما مائة إلاواحدا من احصا ها دخل
الجنة
Artinya:
Dari Abu Hurairah, bersabda Rasulullah SAW. “Sesungguhnya Allah mempunyai 99
nama yakni seratus kurang satu barang siapa yang menghafalkan (Luar Kepala_
seluruhnya akan dimasukkan ke dalam Surga” (HR. Bukhori)
Dari
penggalan hadist tersebut, menyatakan bahwa siapa saja yang bersedia mengamalkan membaca
Asma‟ul Husna, maka Allah akan memasukkannya
ke dalam surga-Nya. Lebih mendalam berkenaan dengan manfaat yang dapat kita
peroleh dengan menjadikan Asma‟ul Husna sebagai bacaan zikir sehari-hari, di
antaranya adalah sebagai berikut:
1. Mengamalkan
bacaan asma‟ul husna akan dapat mengantarkan kita untuk lebih mengenal atau ma’rifat
kepada Allah swt.Membaca asma‟ul husna akan memberikan pemahaman dan
pengetahuan kepada kita tentang sifat-sifat Allah, sebab dari setiap asma‟
Allah tersebut menggambarkan tentang sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Allah.
2. Mengamalkan
membaca asma‟ul husna, akan dapat menumbuhkan baik sangka (husnuzhan)
kepada Allah, sebab kita akan mengetahui jika Allah adalah Tuhan yang maha
pengasih dan penyayang, Tuhan yang mengabulkan do‟a-do‟a hamba-Nya, Tuhan yang
maha pengampun dan maha bijaksana.
3. Menyebut
dan membaca asma‟ul husna menjadikannya sebagai bacaan zikir setiap saat,
terlebih lagi menghafalkannya, akan dapat membawa dan mengantarkan kita kepada
surga Allah.
4. Membaca
asma‟ul husna akan mampu menumbuhkan perasaan cinta (mahabbah) kepada Allah, dan
akan menjadikan kita menjadi hamba
Allah
yang dicintai-Nya.
5. Mengamalkan
membaca asma‟ul husna akan memberikan kesadaran pada
kita tentang hakikat hidup dan kehidupan yang sedang kita jalani.
6. Menyebut
dan membaca asma‟ul husna akan memberikan kekuatan (energi) lahir dan batin pada kita,
menumbuhkan kedamaian dan ketenangan
yang sangat mendalam dalam jiwa dan hati kita[10]
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Melalui
Dzikir Asmaul
Husna yang sungguh-sungguh seseorang
dapat merasakan kenikmatan tersendiri di dalam dirinya. Yaitu berupa kenikmatan
spiritualitas diri yang bisa dikatakan mereka seperti bertemu atau
berkomunikasi dengan Allah SWT. Dzikir ini sendiri bukanlah suatu ibadah yang
wajib seperti halnya sholat lima waktu. Tetapi Allah SWT memerintahkan hamba hambanya untuk melakukannya. Yaitu
untuk selalu mengingat nama-nama llah SWT.
[1]Ujam Jaenudin, Psikologi
Transpersonal (Bandung: Pustaka Setia, 2012) hlm., 196.
[2] Abdullah, M. Zain, Dzikir dan
Tasawuf (Solo: Qaula, 2007) hlm., 83.
[3]
Triantoro
Safaria&Nofrans Eka Saputra, Manajemen Emosi: Sebuah Panduan Cerdas
Mengelola
Emosi Positif dalam Hidup Anda (Jakarta:
Bumi Aksara, 2009) hlm., 253-254.
[4] Triantoro Safaria&Nofrans Eka
Saputra, Manajemen..., hlm., 253-254.
[5] Abdul Al Qadir Al Jailani, Rahasia
Sufi (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2005) hlm., 175.
[6]
Joko S.
Kahhar&Gilang Cita Madinah, Berdzikir kepada Allah Kajian Spiritual
Masalah
Dzikir
dan Majelis Dzikir (Yogyakarta:
Sajadah_press, 2007) hlm., 01.
[7] Ensiklopedi Islam, jilid
6(Jakarta: PT Ichtiar Baru van Houve,...) hlm., 332.
[8] Ensiklopedi Islam, jilid
1(Jakarta: PT Ichtiar Baru van Houve,...) hlm., 159.
[9] Laleh Bakhtiar terj Femmy
Syahrini “Meneladani Akhlak Allah”
(Bandung: Mizan, 2002) hlm, 95-136.
[10]
Samsul
Munir Amin&Haryanto Al-Fandi, Energi Dzikir (Jakarta: Amzah, 2008)
hlm.,
140-141.
Subscribe to:
Posts (Atom)


